
Dunia kecerdasan buatan kembali dihebohkan dengan isu sensitif yang menyeret nama OpenAI. Model AI terbaru mereka,
GPT-5.2, disebut-sebut memanfaatkan atau “mencatut” Grokipedia, sebuah basis pengetahuan yang dikaitkan dengan Elon Musk,
dalam merespons topik-topik sensitif. Dugaan ini langsung memantik perdebatan luas, terutama terkait etika, transparansi data, dan
batasan penggunaan sumber eksternal oleh model AI generatif.
GPT-5.2 sendiri digadang-gadang sebagai salah satu lompatan besar dalam pengembangan AI bahasa alami. Model ini diklaim
memiliki pemahaman konteks yang lebih mendalam, kemampuan analisis yang lebih presisi, serta respons yang semakin
menyerupai cara berpikir manusia. Namun, keunggulan tersebut kini dibayangi oleh kontroversi yang berpotensi memengaruhi reputasi OpenAI.
Apa Itu Grokipedia dan Mengapa Jadi Masalah?
Grokipedia dikenal sebagai sistem basis pengetahuan yang dikembangkan dalam ekosistem AI yang berafiliasi dengan xAI,
perusahaan milik Elon Musk. Basis data ini disebut-sebut dirancang untuk mendukung model Grok dengan pendekatan yang
lebih “berani” dalam membahas isu politik, sosial, dan topik sensitif lainnya.
Masalah muncul ketika sejumlah peneliti independen dan pengamat AI menemukan kemiripan pola jawaban GPT-5.2 dengan
karakteristik informasi yang selama ini diasosiasikan dengan Grokipedia. Kemiripan tersebut mencakup struktur penjelasan, sudut
pandang tertentu, hingga gaya penyampaian pada isu-isu kontroversial.
Jika dugaan ini benar, maka muncul pertanyaan besar: apakah GPT-5.2 dilatih menggunakan data yang bersumber atau terinspirasi
langsung dari Grokipedia tanpa izin atau pengungkapan resmi?
Respons OpenAI dan Sikap Elon Musk
Hingga saat ini, pihak OpenAI belum memberikan pernyataan tegas yang secara spesifik mengonfirmasi atau membantah penggunaan
Grokipedia dalam pengembangan GPT-5.2. OpenAI hanya menegaskan bahwa model mereka dilatih menggunakan campuran data
berlisensi, data buatan pelatih manusia, serta data yang tersedia untuk umum, sesuai dengan kebijakan yang berlaku.
Di sisi lain, Elon Musk dikenal sebagai figur yang vokal dalam isu transparansi dan keamanan AI. Meski belum memberikan komentar
langsung terkait dugaan ini, publik Tuna55 menilai Musk kemungkinan akan mengambil sikap tegas jika merasa aset intelektual miliknya
digunakan tanpa persetujuan.
Implikasi Etika dan Masa Depan AI Generatif
Kasus ini kembali membuka diskusi panjang soal etika pengembangan AI. Transparansi sumber data, perlindungan hak kekayaan
intelektual, serta akuntabilitas perusahaan teknologi menjadi sorotan utama. Di tengah persaingan ketat antar pengembang AI global,
isu semacam ini berpotensi memicu konflik hukum maupun perubahan regulasi.
Bagi publik, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa kecanggihan AI harus diimbangi dengan kejelasan etika. Ke depan,
tuntutan terhadap keterbukaan dan tata kelola data yang lebih ketat diperkirakan akan semakin menguat, seiring AI semakin
memengaruhi cara manusia mengakses dan memaknai informasi.