
ASEAN Plus Three Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara terus memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi tantangan global,
termasuk perubahan iklim, pemulihan ekonomi pascapandemi, serta ketimpangan pembangunan. Dalam konteks tersebut,
ASEAN Plus Three—yang melibatkan negara-negara ASEAN bersama Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan—menetapkan
pariwisata berkelanjutan sebagai salah satu prioritas utama kerja sama periode 2026–2030.
Penetapan ini mencerminkan kesadaran kolektif bahwa sektor pariwisata tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi,
tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat lokal. Dengan
menjadikan keberlanjutan sebagai prinsip utama, ASEAN Plus Three berupaya memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata
di kawasan tetap inklusif, tangguh, dan ramah lingkungan.
Peran Strategis Pariwisata bagi Kawasan ASEAN Plus Three
Pariwisata selama ini menjadi salah satu sektor unggulan di kawasan ASEAN Plus Three. Sebelum pandemi COVID-19,
kawasan ini mencatat ratusan juta kunjungan wisatawan internasional setiap tahunnya, dengan kontribusi besar terhadap
penciptaan lapangan kerja dan pendapatan devisa negara.
Namun, pertumbuhan yang pesat juga menimbulkan berbagai persoalan, seperti overtourism, degradasi lingkungan,
tekanan terhadap infrastruktur, serta marginalisasi masyarakat lokal. Oleh karena itu, periode 2026–2030 dipandang
sebagai momentum penting untuk melakukan transformasi paradigma pariwisata, dari yang berorientasi
kuantitas menuju kualitas dan keberlanjutan.
Makna Pariwisata Berkelanjutan dalam Kerangka Regional
Pariwisata berkelanjutan dalam kerangka ASEAN Plus Three tidak hanya dimaknai sebagai pelestarian lingkungan,
tetapi juga mencakup tiga pilar utama, yaitu keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Ketiganya harus
berjalan seimbang agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara adil oleh generasi sekarang dan mendatang.
Pendekatan ini menekankan perlindungan ekosistem alam, pelestarian warisan budaya, pemberdayaan komunitas
lokal, serta penciptaan nilai ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, pariwisata tidak lagi menjadi ancaman
bagi sumber daya, melainkan alat untuk menjaga dan memperkuatnya.
Fokus Kebijakan Periode 2026–2030
Penguatan Kebijakan dan Standar Bersama
Salah satu fokus utama kerja sama ASEAN Plus Three adalah harmonisasi kebijakan dan standar pariwisata
berkelanjutan. Negara-negara anggota didorong untuk mengembangkan pedoman bersama terkait pengelolaan
destinasi, akomodasi ramah lingkungan, serta praktik perjalanan yang bertanggung jawab.
Standar ini diharapkan dapat menjadi acuan regional, sekaligus meningkatkan daya saing kawasan di mata wisatawan
global yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan.
Transformasi Digital untuk Pariwisata Hijau
Transformasi digital juga menjadi bagian penting dari agenda pariwisata berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi digital
dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan pengelolaan destinasi wisata.
Melalui sistem data terpadu, negara-negara ASEAN Plus Three dapat memantau arus wisatawan, kapasitas daya dukung
lingkungan, serta dampak ekonomi secara lebih akurat. Teknologi Tuna55 juga membuka peluang pengembangan pariwisata
cerdas (smart tourism) yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi pada pengalaman wisata berkualitas.
Pemberdayaan UMKM dan Komunitas Lokal
ASEAN Plus Three menempatkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komunitas lokal
sebagai inti dari pariwisata berkelanjutan. UMKM lokal dianggap sebagai tulang punggung ekonomi pariwisata,
terutama di daerah pedesaan dan destinasi non-mass tourism.
Melalui pelatihan, akses pembiayaan, dan promosi lintas negara, kerja sama regional diharapkan dapat meningkatkan
kapasitas pelaku lokal agar mampu bersaing dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil dari sektor pariwisata.
Kontribusi Negara Mitra: Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan
Sebagai bagian dari ASEAN Plus Three, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan memainkan peran strategis dalam mendukung
agenda pariwisata berkelanjutan. Ketiga negara ini memiliki pengalaman, teknologi, dan sumber daya yang dapat memperkuat
kapasitas kawasan.
Jepang dikenal dengan praktik pariwisata berbasis komunitas dan pelestarian budaya, sementara Korea Selatan unggul dalam
digitalisasi pariwisata. Tiongkok, di sisi lain, memiliki skala pasar dan investasi besar yang dapat diarahkan untuk
mendukung infrastruktur pariwisata hijau dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.
Tantangan Implementasi di Tingkat Nasional dan Lokal
Meski komitmen regional telah disepakati, implementasi pariwisata berkelanjutan tetap menghadapi berbagai tantangan.
Perbedaan kapasitas antarnegara, keterbatasan pendanaan, serta kurangnya kesadaran di tingkat lokal menjadi
hambatan yang perlu diatasi secara bersama.
Selain itu, perubahan pola pikir pelaku industri dan wisatawan juga membutuhkan waktu. Oleh karena itu, periode
2026–2030 dipandang sebagai fase transisi penting, di mana edukasi, insentif, dan regulasi harus berjalan seiring.
Dampak Jangka Panjang bagi Kawasan
Dengan menjadikan pariwisata berkelanjutan sebagai prioritas, ASEAN Plus Three tidak hanya menargetkan pemulihan
ekonomi jangka pendek, tetapi juga ketahanan jangka panjang kawasan. Pariwisata yang dikelola secara berkelanjutan
diyakini mampu menciptakan stabilitas ekonomi, menjaga lingkungan hidup, serta memperkuat identitas budaya regional.
Dalam jangka panjang, langkah ini juga memperkuat posisi kawasan ASEAN Plus Three sebagai destinasi wisata berkualitas
tinggi yang bertanggung jawab secara global.
Menuju Pariwisata yang Lebih Tangguh dan Inklusif
Penetapan pariwisata berkelanjutan sebagai prioritas kerja sama ASEAN Plus Three periode 2026–2030 menjadi sinyal kuat
akan perubahan arah pembangunan sektor pariwisata di kawasan. Melalui kolaborasi regional, inovasi kebijakan, dan
keterlibatan masyarakat, pariwisata diharapkan tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sarana
pelestarian lingkungan dan budaya.
Dengan komitmen yang konsisten, ASEAN Plus Three berpeluang besar menjadi contoh sukses bagi kawasan lain
dalam membangun pariwisata yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika global. https://heylink.me/tuna55.official/