You are currently viewing Gokaido, Jalan Kuno yang Menjadi Fondasi Persatuan Jepang

Gokaido, Jalan Kuno yang Menjadi Fondasi Persatuan Jepang

Sistem tersebut dikenal sebagai Gokaido, jaringan jalan utama yang berperan besar dalam menyatukan wilayah Jepang pada masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa. Jauh sebelum konsep jalan raya modern dikenal luas, Jepang telah memiliki sistem infrastruktur darat yang terencana sejak abad ke-17. Keberadaan Gokaido kerap disamakan dengan Jalan Pantura di Indonesia, karena sama-sama menjadi tulang punggung mobilitas dan integrasi wilayah.

Gokaido dibangun untuk menghubungkan ibu kota Edo—kini dikenal sebagai Tokyo—dengan berbagai daerah strategis di Jepang. Jalan ini tidak hanya memfasilitasi pergerakan barang dan penduduk, tetapi juga menjadi sarana kontrol politik, pertukaran budaya, serta penjaga stabilitas nasional pada masa feodal.

Setelah Tokugawa Ieyasu berhasil menyatukan Jepang pada awal abad ke-17, pemerintahannya menghadapi tantangan besar: menjaga loyalitas para daimyo yang menguasai wilayah luas. Untuk itu diterapkan sistem sankin-kōtai, yakni kewajiban para daimyo untuk melakukan perjalanan rutin dari daerah kekuasaan mereka ke Edo dan menetap dalam jangka waktu tertentu. Keluarga mereka bahkan harus tinggal permanen di Edo sebagai bentuk jaminan kesetiaan.

Kebijakan ini terbukti efektif, namun sangat mahal. Catatan sejarah di jalur Nakasendō menunjukkan bahwa biaya perjalanan dapat menggerus hingga seperempat pendapatan bersih seorang daimyo. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah Tokugawa membangun jaringan jalan darat yang tertata dan andal, yang kemudian dikenal sebagai Gokaido.

Lima Jalur Utama Gokaido

Tōkaidō merupakan jalur paling terkenal karena menghubungkan Edo dan Kyoto. Melewati wilayah pesisir timur Honshu yang relatif datar dan padat penduduk, jalur ini memiliki 53 kota pos (shukuba). Popularitasnya diabadikan dalam karya seni Tōkaidō Gojūsan-tsugi, dan hingga kini rutenya masih diikuti oleh jalur Tōkaidō Shinkansen.

Nakasendō membentang melalui kawasan pegunungan pedalaman Honshu dengan 63 kota pos. Jalur ini lebih aman dari badai laut dan memungkinkan perjalanan sepanjang tahun. Selain fungsi politik, Nakasendō mendorong pertumbuhan kota-kota pedalaman, yang kini menjadi kawasan wisata bersejarah seperti Magome dan Tsumago.

Kōshū Kaidō menghubungkan Edo dengan wilayah Provinsi Kai, yang kini dikenal sebagai Prefektur Yamanashi. Dengan 44 kota pos, jalur ini menjadi rute efisien menuju kawasan barat dan sekitar Gunung Fuji, sekaligus berperan penting dalam pertahanan Edo.

Ōshū Kaidō mengarah ke kawasan Tōhoku di Jepang utara. Jalur ini memiliki 24 kota pos Tuna55 dan berperan krusial dalam pengawasan wilayah yang sempat rawan gejolak politik. Hingga kini, rute Ōshū Kaidō masih menjadi dasar jaringan transportasi modern di Jepang utara.

Nikkō Kaidō memiliki fungsi paling simbolis. Jalur ini menghubungkan Edo dengan Nikkō, lokasi makam Tokugawa Ieyasu. Digunakan terutama untuk perjalanan seremonial dan ziarah ke Nikkō Tōshō-gū, jalur ini memiliki 21 kota pos dan dikenal dengan deretan pohon cedar yang masih bertahan hingga kini.

Secara keseluruhan, Gokaido menunjukkan bagaimana infrastruktur dapat menjadi alat integrasi politik, ekonomi, pertahanan, dan budaya. Jejaknya masih terasa hingga Jepang modern, membuktikan bahwa jalan bukan sekadar penghubung wilayah, melainkan fondasi persatuan bangsa.

Leave a Reply