Negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Oman menunjukkan perkembangan
yang lebih mulus dari yang diperkirakan banyak pengamat internasional. Pembicaraan ini berlangsung di tengah
ketegangan tinggi — tidak hanya karena masalah nuklir itu sendiri, tetapi juga ancaman keras yang dilontarkan oleh
Presiden AS Donald Trump terhadap Teheran jika kesepakatan tidak tercapai.
Latar Belakang Negosiasi Nuklir
Negosiasi kali ini merupakan kelanjutan dari upaya diplomatik yang berjalan sejak 2025 untuk menyelesaikan perselisihan
berkepanjangan tentang program nuklir Iran. Meski kedua belah pihak telah berunding sebelumnya di Oman dan lokasi lain,
ketegangan politik dan aksi militer yang terjadi dalam setahun terakhir membuat harapan untuk kesepakatan menjadi rapuh.
Iran sendiri mengalami pertempuran internal sekaligus tantangan besar di arena internasional setelah konflik bersenjata antara
Iran dan Israel pada 2025 yang disusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Situasi ini memperburuk tingkat ketidakpercayaan kedua negara.
Jalannya Pembicaraan di Oman
Pembicaraan yang berlangsung di Muscat, Oman, dimediasi oleh pemerintah Oman dan dihadiri wakil dari kedua negara
termasuk utusan AS Steve Witkoff dan figur senior lainnya — serta Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Berbeda dengan pembicaraan sebelumnya yang sempat direncanakan di Turki atau format yang lebih luas, negosiasi
terakhir ini difokuskan secara terpisah (indirect talks) dan hanya pada isu program nuklir.
Dalam suasana yang relatif tenang, masing-masing pihak menyampaikan posisi mereka dan menegaskan komitmen untuk
melanjutkan dialog. Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan hari itu sebagai “awal yang baik” (a good start),
sekaligus menekankan pentingnya diskusi lebih lanjut yang akan ditentukan di ibu kota masing-masing negara.
Ancaman Trump Mengiringi Negosiasi
Meski negosiasi berjalan, ketegangan tetap tinggi karena ancaman terbuka dari Presiden AS Donald Trump. Trump memberi
peringatan keras kepada Iran, termasuk ancaman militer jika kesepakatan tidak tercapai secara memuaskan bagi AS.
Menurut sejumlah laporan, Trump menyatakan “hal-hal buruk bisa terjadi” jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS dalam perundingan ini.
Selain itu, pejabat Gedung Putih mempertegas bahwa Trump memiliki “banyak pilihan selain diplomasi”, yang secara implisit
menyiratkan dukungan untuk opsi militer.
Hal ini memperkuat posisi Iran yang selama ini skeptis terhadap itikad baik AS. Pihak Iran menegaskan diplomasi harus
dilakukan tanpa tekanan militer dan dengan saling menghormati — bukan melalui ancaman atau ultimatum.
Harapan dan Tantangan Kedepan
Meskipun negosiasi awal ini dianggap berjalan “dengan baik”, banyak pengamat mengingatkan bahwa jalan menuju
kesepakatan final masih penuh tantangan. Ketidakpercayaan historis, perbedaan tujuan strategis, dan campur tangan
isu lain seperti program rudal balistik atau dukungan Iran terhadap kelompok di kawasan masih menjadi hambatan utama.
AS ingin memperluas pembicaraan ke isu militer dan regional Tuna55, sementara Iran tetap bersikeras bahwa agenda nuklir
harus menjadi fokus utama tanpa pelebaran topik lain.
Selain itu, ketegangan di kawasan Teluk dan adanya penempatan militer AS yang lebih besar mempertegas bahwa
jika diplomasi gagal, risiko eskalasi militer tidak dapat diabaikan.
Negosiasi nuklir antara Iran dan AS di Oman menunjukkan indikator awal yang positif, terutama karena kedua pihak
berhasil duduk di meja perundingan tanpa gangguan besar. Namun, ancaman dari pihak AS yang dipimpin oleh Donald
Trump menjadi pengingat bahwa proses diplomasi ini berlangsung di bawah bayang-bayang ketegangan besar.
Ke depan, kedua negara perlu membangun lebih banyak kepercayaan dan menyepakati agenda yang jelas jika ingin benar-benar
keluar dari konflik panjang ini dan menuju kesepakatan damai yang berkelanjutan.