You are currently viewing Hindari Burnout! CEO Instagram Ungkap Rahasia Jadwal Posting Terbaik

Hindari Burnout! CEO Instagram Ungkap Rahasia Jadwal Posting Terbaik

Tekanan untuk terus aktif di posting media sosial kerap menjadi tantangan besar bagi para kreator konten maupun pelaku bisnis digital. Banyak pengguna merasa harus mengunggah konten setiap hari demi mengejar algoritma dan menjaga visibilitas akun. Namun, strategi ini justru sering berujung pada kelelahan fisik dan mental atau burnout. Menyadari fenomena tersebut, Head of Instagram, Adam Mosseri, membagikan pandangan yang cukup menenangkan melalui akun broadcast channel pribadinya.

Mosseri menegaskan bahwa jadwal posting yang ideal bukan soal seberapa sering seseorang mengunggah konten, melainkan seberapa lama jadwal tersebut dapat dipertahankan secara konsisten. Menurutnya, kesehatan mental dan keberlanjutan kreativitas jauh lebih penting dibandingkan mengejar angka statistik harian yang sifatnya fluktuatif.

Ia mengingatkan agar para kreator tidak terjebak pada standar eksternal mengenai frekuensi posting yang dianggap “sempurna”, tetapi sulit diterapkan dalam kehidupan nyata. Jadwal yang memaksa justru berpotensi membuat kreator kehilangan motivasi dan berhenti berkarya sama sekali.

Prioritaskan Konsistensi, Bukan Intensitas

Dalam pernyataannya, Mosseri menawarkan sudut pandang baru tentang definisi jadwal posting terbaik. Ia menekankan bahwa jadwal yang optimal adalah jadwal yang terasa realistis dan tidak menimbulkan stres. Oleh karena itu, ia secara terbuka menyarankan agar kreator tidak memaksakan diri untuk mengunggah konten setiap hari jika hal tersebut dirasa memberatkan.

“Saya lebih suka Anda posting dua kali seminggu selama dua tahun, daripada setiap hari selama dua bulan lalu berhenti,” tulis Mosseri.

Pernyataan ini menegaskan bahwa algoritma Instagram sebenarnya lebih menghargai konsistensi jangka panjang daripada lonjakan aktivitas sesaat. Kreator yang mampu menjaga ritme stabil dalam waktu lama dinilai lebih berpeluang membangun komunitas audiens yang solid dan loyal. Dengan kata lain, keberlangsungan lebih penting daripada intensitas sesaat.

Menemukan Titik Temu Kreativitas dan Performa

Selain membahas frekuensi, Mosseri juga mendorong kreator untuk lebih bijak dalam menentukan jenis konten. Ia menyarankan agar setiap kreator menemukan “titik temu” antara minat pribadi dan format konten yang terbukti memiliki performa baik di platform.

Menurut Mosseri, keseimbangan ini sangat penting agar proses berkarya tetap terasa menyenangkan dan tidak berubah menjadi beban pekerjaan semata. Kreator yang hanya mengejar tren tanpa menikmati prosesnya berisiko cepat merasa jenuh.

“Temukan titik temu antara apa yang Anda sukai dan apa yang berhasil, lalu terus lakukan itu,” ujarnya.

Pendekatan ini memungkinkan kreator mempertahankan identitas, sekaligus tetap relevan di mata audiens dan algoritma.

Standar Frekuensi yang Dinilai Efektif

Meski menekankan kenyamanan pribadi, Mosseri tidak menutup mata terhadap data dan riset pasar. Beberapa panduan umum dapat dijadikan referensi awal, salah satunya dari Hopper HQ. Berdasarkan rangkuman riset tersebut, frekuensi unggahan feed Instagram yang dianggap aman berada di kisaran 1–2 kali per hari. Angka ini dinilai cukup untuk menjaga jangkauan tanpa membuat pengikut merasa terganggu.

Untuk format video pendek seperti Reels, frekuensi yang disarankan adalah sekitar 3–5 kali per minggu. Sementara itu, fitur Instagram Stories dinilai efektif jika diunggah sebanyak 3–7 kali per hari, guna menjaga interaksi harian tanpa membuat audiens memilih untuk melewati konten.

Namun demikian, angka-angka tersebut bukan aturan baku. Mosseri menegaskan bahwa setiap kreator perlu menyesuaikannya dengan kapasitas, gaya hidup, dan tujuan masing-masing.

Keseimbangan Jadi Kunci Utama

Pada akhirnya, pesan utama dari Mosseri cukup jelas: tidak ada jadwal posting yang benar-benar universal. Strategi terbaik adalah yang mampu menjaga keseimbangan antara performa akun, kesehatan mental, dan keberlanjutan kreativitas. Dengan ritme yang realistis dan konten yang selaras dengan minat pribadi, kreator dapat bertahan lebih lama di ekosistem media sosial tanpa harus mengorbankan kesejahteraan diri.

Bagi kreator dan pelaku bisnis, nasihat ini menjadi pengingat penting bahwa sukses di media sosial bukanlah maraton cepat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan strategi berkelanjutan. Tuna55

Leave a Reply