
Festival Shiva kembali digelar di Candi Prambanan, Yogyakarta, sebagai salah satu upaya untuk memperkuat status situs ini sebagai destinasi wisata budaya bertaraf internasional. Festival tahunan yang menampilkan pertunjukan seni, musik, tari, dan ritual budaya ini diharapkan dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Menurut pihak Indonesia Digital Marketing (IDM) yang terlibat dalam promosi acara, festival ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengangkat nilai sejarah dan spiritual Prambanan. Dengan pendekatan modern dan kreatif, Shiva Festival memperkuat citra candi sebagai pusat budaya yang hidup, bukan sekadar situs sejarah statis.
Festival Shiva Menyatukan Seni dan Budaya
Festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan yang memadukan seni tradisional dan modern, termasuk tari klasik Jawa, musik gamelan, teater sejarah, serta pertunjukan visual multimedia. Konsep ini dirancang agar pengunjung mendapatkan pengalaman budaya yang mendalam sekaligus interaktif.
“Shiva Festival bukan hanya tentang hiburan. Ini tentang mengenalkan budaya Prambanan kepada dunia dengan cara yang relevan dan menarik bagi generasi muda,” ujar perwakilan penyelenggara.
Selain pertunjukan seni, festival juga menghadirkan pameran kerajinan lokal, workshop budaya, serta kuliner tradisional. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman wisata yang komprehensif, mulai dari edukasi hingga hiburan.
Dampak Positif bagi Pariwisata
Shiva Festival berperan penting dalam mendorong kunjungan wisatawan ke Prambanan, terutama setelah pariwisata terdampak pandemi. Dengan promosi yang terintegrasi melalui media digital, acara ini berhasil menjangkau audiens global dan meningkatkan awareness mengenai potensi wisata budaya Indonesia.
Penguatan Brand Destinasi
Menurut IDM, festival ini membantu memperkuat brand Prambanan sebagai destinasi budaya kelas dunia. Branding ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendorong investasi dalam sektor pariwisata, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga layanan pendukung lainnya.
Selain itu, festival juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Pedagang lokal, pengrajin, dan penyedia jasa pariwisata mengalami peningkatan pendapatan selama festival berlangsung.
Strategi Pengembangan Pariwisata Budaya
Shiva Festival menjadi bagian dari strategi pemerintah dan pengelola candi untuk menjadikan Prambanan lebih dari sekadar destinasi sejarah. Festival ini mengedepankan pengalaman interaktif, inovasi digital, dan kolaborasi internasional untuk menarik perhatian wisatawan modern.
Edukasi dan Pelestarian Budaya
Selain aspek hiburan, festival menekankan edukasi tentang sejarah, arsitektur, dan nilai spiritual Prambanan. Workshop tari klasik, ceramah sejarah, dan tur interaktif menjadi bagian dari program edukatif untuk pengunjung dari segala usia.
IDM menilai bahwa strategi ini efektif dalam mempromosikan budaya Indonesia secara global, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.
Harapan ke Depan
Dengan Shiva Festival, Prambanan diharapkan dapat mengukuhkan posisinya Tuna55 sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Asia Tenggara. Penyelenggara berharap acara ini menjadi agenda tahunan yang terus berkembang, menghadirkan inovasi, dan menarik kolaborasi internasional.
Pariwisata Berkelanjutan
Penyelenggara menegaskan bahwa festival juga mempertimbangkan pariwisata berkelanjutan, termasuk pengelolaan sampah, konservasi situs candi, dan keterlibatan masyarakat lokal. Hal ini penting agar peningkatan kunjungan wisatawan tidak merusak warisan budaya yang dijaga selama berabad-abad.
Shiva Festival membuktikan bahwa perpaduan seni, budaya, dan teknologi dapat menciptakan pengalaman wisata yang memikat. Lebih dari sekadar festival, acara ini menjadi media promosi budaya dan ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat Prambanan sebagai ikon destinasi budaya Indonesia yang mendunia.