You are currently viewing Ratusan Pesantren dan Balai Pengajian di Aceh Timur Masih Rusak Akibat Banjir: Aktivitas Belajarnya Menjadi Terganggu

Ratusan Pesantren dan Balai Pengajian di Aceh Timur Masih Rusak Akibat Banjir: Aktivitas Belajarnya Menjadi Terganggu

Ratusan Pesantren dan Balai Pengajian di Aceh Timur Masih Rusak Akibat Banjir Aktivitas Belajarnya Menjadi Terganggu

Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Timur beberapa waktu lalu masih menyisakan dampak serius, terutama bagi sektor pendidikan keagamaan. Ratusan pesantren dan balai pengajian dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari ruang kelas, asrama santri, hingga fasilitas ibadah. Akibatnya, aktivitas belajar mengajar belum sepenuhnya pulih dan terpaksa berjalan terbatas.

Banyak bangunan pesantren yang terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa. Air membawa lumpur, sampah, dan merusak perabotan, kitab-kitab, serta peralatan belajar santri.

Aktivitas Belajar Terhambat Aceh Timur

Sejumlah pesantren terpaksa mengurangi jam belajar atau memindahkan kegiatan mengaji ke tempat darurat seperti mushala warga, balai desa, dan tenda pengungsian. Kondisi ini membuat proses pendidikan tidak berjalan maksimal.

Para ustaz dan pengelola pesantren mengaku kesulitan menjalankan kegiatan rutin karena ruang kelas belum layak pakai. Selain itu, banyak kitab dan Al-Qur’an yang rusak sehingga mengganggu kelancaran pembelajaran.

“Santri tetap kami ajak belajar, tapi harus bergantian dan berpindah tempat. Fasilitas belum siap,” ujar salah satu pimpinan pesantren di Kecamatan Peureulak.

Keterbatasan Sarana dan Logistik

Kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan, tetapi juga pada sarana penunjang seperti dapur umum, kamar mandi, serta tempat tidur santri. Banyak santri masih harus tidur berdesakan karena asrama belum sepenuhnya dapat digunakan.

Beberapa pesantren bahkan masih kekurangan air bersih dan peralatan makan. Bantuan yang masuk dinilai belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan sehari-hari ribuan santri yang tinggal di pesantren-pesantren terdampak.

Perlu Perhatian Pemerintah dan Donatur

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah melakukan pendataan kerusakan serta menyalurkan bantuan darurat. Namun, proses rehabilitasi bangunan pesantren membutuhkan anggaran besar dan waktu yang tidak singkat.

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Timur menyebutkan bahwa ratusan lembaga pendidikan keagamaan memerlukan perbaikan serius agar dapat kembali beroperasi normal. Mereka berharap adanya dukungan dari pemerintah provinsi, pusat, serta para donatur dan lembaga sosial.

Dampak Psikologis Santri

Selain kerugian materi, banjir juga berdampak pada kondisi psikologis santri Tuna55. Banyak dari mereka mengalami ketakutan dan kecemasan, terutama santri yang masih berusia kecil. Kegiatan belajar yang tidak stabil juga memengaruhi konsentrasi dan semangat belajar mereka.

Para pengajar berupaya memberikan pendampingan dan motivasi agar santri tetap bersemangat, meskipun fasilitas masih terbatas.

Harapan Pemulihan

Pengelola pesantren berharap proses perbaikan dapat segera dipercepat agar santri dapat kembali belajar dengan nyaman dan aman. Mereka juga berharap bantuan berupa kitab, Al-Qur’an, perlengkapan tidur, dan peralatan belajar bisa segera disalurkan.

Banjir yang melanda Aceh Timur tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga menguji ketahanan sistem pendidikan keagamaan. Pemulihan pesantren dan balai pengajian menjadi langkah penting agar generasi muda tetap mendapatkan pendidikan agama yang layak dan berkelanjutan.

Leave a Reply